Oase Harakah Khoiru Ummah



Oleh: Ibnu Zainy Misbah
           
Wahai Ummat Terhebat…kita mulai oase harakiyah ilahiyah dengan menganalisis total firman Allah dalam surat Al Imran ayat 146, sebagai berikut :

"Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar."

             Kita sering mendengar dalam kamus dakwah mushtholah yang penuh spirit dan menjadikan pengengarnya lebih energik, itulah yang kita dengar dengan uraian kata "dakwah akan terus bergerak membesar  membumbung memayungi semesta alam dengan kedamaian Ilahi, dakwah tidak mengenal berhenti atau pensiun dini karena tidak ada manusia yang membawanya, dakwah akan senantiasa bergerak meninggi ke puncak kemenangan tanpa ada yang mampu menghalanginya".
Wahai sahabatku yang excellent….dari ayat diatas kita bisa menganalisa karakter-karakter fundamental yang dimiliki sahabat Rasulullah sehingga Allah menghadirkan anugrah terbesar yaitu "al hayah tahta dzilali dakwah", hidup dibawah payung dakwah, oase harakah para sahabat bisa kita lihat dari sebagian karakter dibawah ini ;
1.      Quwwatul harakah (Totalitas dalam bergerak)
2.      'Adamul wahn wa dho'if wa istakah (Tidak mudah mengeluh, bosen dan pasrah dengan kondisi)   
3.      At Thumuhat Al Ilahiyyah (Definisi Allah bukan definisi manusia)
Pertama; Totalitas dalam bergerak, kita ingat ketika janin terlahir dalam keadaan bergerak dan menangis adalah merupakan tanda kehidupan bagi sang janin dan tanda kebahagiaan bagi sang keluarga khususnya sang ibu. 'Imadud Dakwah…bergerak adalah tanda kehidupan pada diri manusia dan bagian dari pola untuk mewujudkan kebahagiaan. Totalitas dalam bergerak artinya memberikan keseluruhan kepunyaan dan kepemilikan diri untuk terus berjalan bergerak bersama rombongan dakwah, berjalan berlari menjadi transformer hidayah kepada publik ramai, mengambil peran diri untuk menjadi primadona kebaikan, tidak sudi bila tertinggal kereta karena hanya termangu melihat pesona dakwah. Menggelorakan suasana hati dan kebatinan jiwa untuk terus menjadi pelopor dan pioneer al khoir adalah sikap tepat seorang muslim hakiki.
Kedua; tidak mudah mengeluh, bosen dan tidak menyerah dengan kondisi yang ada. Safiirud dakwah…kita ini seperti mobil mewah yang sedang mengadakan touring ke seluruh pelosok dunia baik dalam rangka uji coba atau on hidden mission, secara internal kita juga sudah memiliki kekuatan yang sangat hebat dan compatible dalam kondisi apapun sebagaimana onderdil mobil mewah yang disiagakan untuk segala kondisi dan medan. Secara interpersonal kita juga sangat menjadi dambaan banyak makhluq, bahkan alam seiisinya pun menyerahkan potensinya untuk kita, orang diluar sudah menaruh persepsi positif atas diri kemampuan kita, "khoirun mimma yadzuunnu nas".kita mendapatkan label posistif dari masyarakat luas seperti mobil mewah yang dianggap sangat hebat dari berbagai sisi.
Syababul Islam…itulah diri kita, harapannya adalah bukan keluhan yang terlahir dari dramatisasi pola pikir, bukan juga rasa bosen yang memanjang karena merasa sudah pernah berbuat untuk dakwah, atau menjadi pribadi yang tunduk kalah dengan kondisi medan dakwah yang bermula dari pesimisme ruhiyah. Itu bukan sikap yang seharusnya dihadirkan untuk mengkondisikan diri kita agar tidak bergerak, atau respon itulah yang menjadikan kita mengambil posisi duduk atau tertuduk dalam dakwah ini. Tapi…kita harus menghadirkan suasana kejiwaan yang selalu segar bugar untuk terus bergerak menyebarkan dakwah ini sampai tidak ada rumah dibelahan dunia ini tanpa dakwah didalamnya.
Ketiga; At thumuhat Al Ilahiyah…terkadang kita terlalu membatasi jangkauan daya pandang pikiran kita tentang kebahagian atau sejenisnya dengan mengambil referensi dari makhluq. Misalkan kita mendefenisikan sesuatu dengan angka-angka dunia atau dengan rumus-rumus manusia semata, pernah kan kita berfikir kalo kita sering pulang malam karena agenda dakwah, maka dipagi hari akan terasa ngantuk, capek, lemah, etos kerja berkurang? Atau ketika kita merasa kurang rizki karena meninggalkan pekerjaan karena memenuhi panggilan Allah. Padahal ketika kita sedang menjadi "junud dakwah" atau "Abna'ul Dakwah" (anak-anak dakwah) yang memikirkan kita adalah Yang Maha Memiliki Segala-galanya, Allah lah yang akan menjamin dan menanggung segala yang menjadi sarana kebahagian kita. Kita tidak usah galau dan risau dengan kondisi kita ketika kontrak jual beli dengan Allah sudah kita ikrarkan. Allah yang akan mengatur dan memanaj setiap periode kehidupan kita.
Ayyuhda Du'at Yuhibbukumu Allah…ayo kita bersama bergerak untuk Islam dan dakwah. dan Allah yang mengatur urusan kita.wallahu a'alam
Share on Google Plus

About Tim Inspire

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 Beri komentar:

Posting Komentar