Semangat Muda, Semangat Kepahlawanan

Semangat kemerdekaan yang dulu dimiliki para pahlawan sepertinya sudah mulai luntur dalam benak pemuda, padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya. Tak bisa dipungkiri pemahaman pelajar/pemuda terhadap nilai-nilai kepahlawanan kini sudah mulai pudar. Kini, banyak siswa, terutama tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) yang tak lagi mengerti soal nilai-nilai kepahlawanan, keperintisan kejuangan, dan kesetiakawanan sosial. Bahkan, para siswa kini sudah mulai lupa siapa itu Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanudin, dan Jenderal Soedirman, mereka lebih mengenal Wonder Woman, Spiderman, dan Batman. Lantas, bagaimana kita menyikapi hal ini?

Jiwa Kepahlawanan, hendaknya ditanamkan sejak dini kepada generasi muda. Hal ini dikarenakan dengan meneladani semangat keperintisan dan kejuangan diharapkan setiap sekolah bisa menghasilkan output (baca: lulusan) yang tidak hanya cakap di bidang akademik, namun juga memiliki jiwa kepahlawanan. Sikap teladan yang hendaknya dicontoh generasi muda antara lain, falsafah sepi ing pamrih rame ing gawe (amal dengan tulus ikhlas karena ridho Allah), ini adalah soko guru sikap kesetiakawanan sosial yang telah diteladankan oleh para pahlawan.

Melestarikan jiwa kepahlawanan yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari adalah semangat nasionalisme dan menjaga persatuan dan kesatuan. Memperkuat kesetiakawanan sosial dapat dilakukan melalui agama, pendidikan, dan keluarga.

Upaya pelestarian nilai-nilai kepahlawanan, kejuangan, dan keperintisan menjadi bagian penting dalam mengawal pembangunan manusia seutuhnya. Mengkaji nilai kepahlawanan, sebagai aset jati diri serta identitas masyarakat bernegara di dalam suatu komunitas bangsa yang heterogen, menjadi bagian yang penting di zaman ini. Zaman ini adalah zaman ketika masyarakat Indonesia tengah merasakan semakin kuatnya arus globalisasi yang berwajah modernisasi ini.

Penanaman nilai kepahlawanan tidak hanya memberikan kontribusi yang positif kepada generasi muda, karena generasi yang tua wajib menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan terhadap generasi penerus dengan bekal-bekal nilai-nilai luhur yang dimiliki para pahlawan. Perjuangan generasi muda tidak kalah berat, karena yang akan dihadapi bukanlah musuh secara fisik, melainkan tantangan globalisasi zaman. Jjika dahulu para pahlawan perang terhadap penjajah, kini generasi sekarang dan yang akan datang akan berperang melawan kemiskinan dan kebodohan.

Meski pahlawan pembebas penjajahan sudah tiada, namun pelestarian nilai-nilai kepahlawanan, keperintisan dan kesetiakawanan sosial yang bercirikan cinta tanah air, rela berkorban, nerimo ing pandum, ikhlas tanpa pamrih, percaya diri pada kemampuan sendiri, serta keuletan dan bertanggungjawab yang tinggi, tentunya masih sangat relevan dan diperlukan dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia saat ini. Melalui pembinaan pemuda seperti training, mentoring, berorganisasi, dan forum-forum ilmiah lainnya sangat diperlukan guna menggali dan menggugah jiwa kepemimpinan para generasi muda. Hal ini diharapkan terjadi transformasi ilmu pengetahuan, jiwa kepahlawan dan nilai-nilai luhur, setelah itu para pelajar bisa menularkan secara berantai word of mouth dan actuating ke rekan-rekannya yang lain, sehingga nilai luhur bangsa ini dapat terpelihara sejak kini dan masa mendatang.

Rosulullah, Muhammad SAW telah memberikan teladan luhur kepada manusia tentang pentingnya memiliki jiwa kepahlawanan. Sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw dalam menegakkan Islam selalu menghadapi rintangan dan tantangan yang berat. Semua itu dihadapinya dengan penuh keteguhan iman dan tentu saja dengan jiwa kepahlawanan. Bahkan di saat menjelang ajal, Rosulullah masih sempat berwasiat kepada umatnya agar selalu tetap menjaga shalat dan ibadahnya. Dalam kepemimpinannya sebagai kepala negara, beliau menyatukan antara ucapan dan perbuatan. Rosulullah selalu memberi teladan terlebih dahulu sebelum mengajak orang lain melakukan hal serupa. Ini juga merupakan salah satu cermin jiwa kepahlawanan beliau.

Rosulullah memilih kehidupan yang wajar, apa adanya, bahkan segalanya diserahkan untuk manusia. Muhammad SAW merasa takut kepada Allah bila dirinya hidup mewah, sementara rakyatnya hidup dalam kemelaratan. Bahkan, Rasulullah terkenal dengan doa agar dalam kematiannya tergolong dalam kelompok orang-orang miskin. Allah mengabulkan, Muhammad SAW hanya meninggalkan Al-Qur’an dan al-Hadits sebagai pegangan hidup keluarga dan umatnya.

Pakar dari Barat, Will Durrant menilai, Muhammad saw merupakan sosok nabi sekaligus pahlawan yang berhasil meningkatkan ruhani dan moralitas suatu bangsa dari kebiadaban dan kebodohan. Beliau membawa ajaran Islam dan menyebarkannya ke Barat dan ke Timur. Tak heran bila Michael Hart, seorang cendekiawan AS menempatkan Muhammad SAW sebagai tokoh urutan pertama di antara 100 tokoh dunia yang memiliki peranan besar dalam sejarah umat manusia. Dalam bukunya, The 100 A Ranking of the Most Influential Persons in History, Hart menyebutkan:

“Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tetapi beliaulah satu-satunya orang yang sukses, baik dalam tataran sekuler maupun agama (hlm 33). Lamartine, seorang sejarawan terkemuka menyatakan bahwa: Jika keagungan sebuah tujuan, kecilnya fasilitas yang diberikan untuk mencapai tujuan tersebut, serta menakjubkannya hasilyang dicapai menjadi tolak ukur kejeniuisan manusia,; siapakah yang berani membandingkan tokoh hebat manapun dalam sejarah modern dengan Muhammad?”

Paparan di atas menjelaskan bahwa sosok seperti Muhammad SAW masih terus relevan diikuti pada zaman ini dan di masa-masa mendatang. Apalagi melihat fenomena dekadensi moral, krisis figur, dan krisis kepahlawanan terjadi di mana-mana. Oleh karenanya mulai sekarang dan seterusnya, adalah saat yang tepat bila pribadi Muhammad SAW dijadikan sebagai acuan untuk menempuh kehidupan yang serba global ini. Jika pakar Barat terkagum-kagum pada pribadi Rasulullah SAW, masihkah kita sebagai umat mulim berpangku tangan tanpa ada upaya untuk meneladani beliau? Nah, dengan meneladani Rasulullah, kita sebagai generasi muda mampu menerapkan cara-cara untuk berbuat dengan jiwa kepahlawanan. Allahu ta’ala a’lam.


Share on Google Plus

About Admin of Sultan Budi Lenggono

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 Beri komentar: