UNTUK KADER DAKWAH SEKOLAH


Ardhianto Murcahya*

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Dan Penyayang
Remaja Merupakan masa transisi atau lebih tepatnya dikatakan sebagai masa perpindahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Yang pada masa tersebut ditandai dengan adanya pemasakan (Maturity), atau mulai berfungsinya alat-alat reproduksi seksual dan hormon-hormon dalam tubuh.

Saya tidak akan membahas banyak tentang hal ini, Yang akan saya bahas kali ini lebih focus kepada kepada how to empowered Them ? bagaimana memperdayakan adik-adik remaja kita tersebut, secara mereka,- baca : adik-adik remaja ) memiliki begitu besar energi dan mungkin jutaan potensi yang masih belum tergali serta masih menjadi bakat terpendam ( Jangan sampai deh jadi fosil ).
Sahabat Rasulullah, Imam Ali bin Abi thalib Karomallohu Wa’jahu, Pernah berkata jika ingin suatu Negara sukses maka ajaklah para pemudanya. Karena memang pemuda adalah penopang utama setiap perubahan yang terjadi. Pengikut Rasulullah yang pertama kali ketika Rasulullah SAW berdakwah secara sembunyi-sembunyi ( fase makiyyah) adalah para pemuda seperti Imam Ali, Kemudian ada Sahabat Mush’ab Bin Umair. Pada Masa perjuangan melawan penjajah di Indonesia ada Pemuda-pemuda besar yang berikrar untuk mempersatukan diri dan memperjuangkan kemerdekaan , maka lahirlah SUMPAH PEMUDA, kemudian ketika kemerdekaan, tanggal 16 agustus Para pemuda berhasil memaksa Sokarno CS dari golongan tua untuk bias segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Oleh karena itu, pemberdayaan remaja dan pemuda bukanlah sebuah kewajiban tetapi sebuah keniscayaan yang harus ditempuh oleh siapa saja yang menginginkan perubahan. Masa Remaja adalah masa pencarian hakikat dan eksistensi diri, keinginan tingkat ke tiga setelah kebutuhan fisiologis dan kebutuhan rasa aman, jika memakai teori Abraham Maslow, The Hirarchy Need Theory. Yaitu kebutuhan akan Cinta dan Memiliki ( Love & Bellonging needs ) kemudian kebutuhan Penghargaan akan diri ( Self Esteem) Serta Pengatualisasian diri. Oleh karena itu, Remaja sebagai sebuah individu yang unik, maka tidak salah bila banyak studi dan literatur yang memfokuskan diri pada masalah remaja sebagai objeknya. Mulai Fisiologis, Psikologis, Sosiologis, dan Religi nya. Remaja memeliki hasrat untuk dimengerti dan didengar, jangan pernah dicela jika salah, saya yakin mereka sebenarnya paham akan kesalahannya, hanya saja mereka (mungkin) sengaja melakukannya untuk memancing perhatian orang-orang dilingkungannya, yang mungkin kurang peka dan peduli terhadap kehadiran mereka.
Maka, jangan salahkan mereka bila mereka bertindak ‘nakal’ diluar batas kewajaran. Yang mungkin disebut sebagai sebuah ‘kenakalan remaja’ ( jujur saya kurang sepakat dengan istilah ini, seharusnya kekurangan perhatian, deficit Attention syndrome, mungkin lebih tepat). Jadi STOP !!! menyalahkan remaja yang ‘nakal’, sekarang saatnya kita untuk mengandeng tangan mereka membawa mereka menuju tugas perkembangannya, menyiapkan masa depannya dan meraih kemandirian, sukses dalam karir dan pendidikan, serta kehidupannya.
Untuk itu Bagi para Kader / aktivis Dakwah sekolah ( ADS), ingat satu hal, PERHATIAN !!! Attention, berikan perhatian kepada mereka sentuh HATI nya. Kedekatan secara HATI akan lebih baik dan jauh bermanfaat untuk kelangsungan dakwah sekolah, daripada harus terlalu saklek pada materi yang akan disampaikan. OBJEK DAKWAH dalam hal ini remaja haruslah menjadi poin utama yang harus kita Focus kan. Bukan padas Materi. MATERI dan METODE adalah sifatnya Penunjang, dan bias disesuaikan dengan kebutuhan kondisi muttarabi atau binaan kita.
Wallahu’alam bishowab

*)
-Ardhianto Murcahya, Adalah Seorang Aktivis Dakwah Sekolah, Di LPR PIONER Kartasura
- Mahasiswa Fakultas Psikologi , Tengah menyelesaikan Skripsinya


Share on Google Plus

About LPR Pioner Kartasura

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 Beri komentar:

  1. ane stuju banget, krna dakwah hrus dismpaikan dgn lembut dan hikmah, bukan dengan vonis atau justifikasi, cukuplah Allah rasul dan orang2 yg beriman yg jadi justifikasi, sdang kita hnya sbgai pelaku dakwah.

    BalasHapus